Pengikut

Sabtu, 21 Maret 2009

MENJADIKAN SISWA SEBAGAI SUBYEK DALAM KEGIATAN BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TAKE AND GIVE DAN TIME TOKEN ARENDS


ku persembahkan untuk seluruh guru yang terlibat dalam kegiatan demokratisasi pendidikan untuk demokratisasi damai


Oleh : FX. Agus Nano Basuki, S.S


tentang penulis

Fx. Agus Nano Basuki, S.S. Penyuka seni yang lahir di Yogyakarta, 16 Agustus 1978 ini adalah lulusan dari Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun 2003. Pernah melalui masa perkuliahan di Program Studi Sastra Inggris di kampus yang sama, meskipun tidak sampai selesai. Pemeluk agama Katolik yang sedang menyelesaikan pendidikan Akta IV ini adalah guru Bahasa Indonesia di SMA Santo Ignasius Singkawang sejak tahun 2005 hingga sekarang. Sebelumnya pernah mengajar mata kuliah Drama di Fakultas Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma dan mengajar Bahasa Inggris di SMA Santo Ignasius Singkawang, masing-masing selama satu tahun.


Pengantar

Dalam tulisan ini saya akan memaparkan pengalaman saya dalam menerapkan dua model pembelajaran, yaitu model pembelajaran Take and Give dan Time Token Arends. Pada dasarnya kedua model pembelajaran ini saya adaptasikan ke dalam kelas dengan tujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar. Model Take and Give (memberi dan menerima) diterapkan untuk melatih siswa menjadi narasumber dan mitra belajar bagi teman-teman yang lain, dengan saling bertukar pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu setiap siswa dituntut untuk menguasai materi yang menjadi topik bahasannya dan mempunyai kemampuan berkomunikasi, sehingga ia dapat menyampaikan materi tersebut kepada siswa lain. Sedangkan siswa yang menerima informasi dituntut pula untuk dapat menangkap materi yang disampaikan kepadanya dengan baik, karena ia pun harus mampu mengembangkan sebuah contoh yang relevan dengan materi yang diterimanya.

Model Time Token Arends adalah sebuah pola belajar yang dapat digunakan untuk mengajarkan siswa mengembangkan keterampilan dan keberanian berpendapat dan menilai unjuk kerja rekan-rekannya. Model ini dirancang sedemikian rupa sehingga dalam suatu pertemuan belajar tidak ada siswa yang mendominasi pembicaraan, atau sebaliknya sama sekali tidak berpendapat/berbicara. Oleh karena itu guru sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar sebaiknya mempersiapkan sejenis kupon yang dibagikan kepada seluruh siswa sebagai “alat tukar” untuk kesempatan berbicara/mengungkapkan pendapat atau penilaian.

Menentukan Jenis Majas Dalam Puisi Melalui Model Pembelajaran Take and Give

Pada awal pembelajaran di kelas XII IIA, saya mengajak siswa-siswi untuk mengingat kembali jenis-jenis majas yang pernah mereka pelajari. Saat saya bertanya tentang pengertian majas hiperbola, majas personifikasi, majas ironi, dan majas litotes, sebagian besar siswa dapat menjawab pengertian berikut contoh masing-masing majas tersebut dengan tepat. Demikian pula dengan jenis majas lain, mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan banar. Dari proses itu saya memiliki hipotesis bahwa “mereka telah menguasai jenis-jenis majas itu dengan baik”.

Untuk membuktikan hipotesis tersebut, saya membagikan selembar kertas kepada tiap siswa yang berisi puisi karya Taufiq Ismail, berjudul Dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya sebagai bahan latihan. Hasil latihan tersebut ternyata kurang memuaskan. Rupanya pengetahuan yang mereka miliki hanya sebatas hafalan tentang pengertian dan contoh-contoh majas yang saya tanyakan, namun tidak memahami majas atau gaya bahasa dengan baik. Seandainya mereka memahami pengertian tiap-tiap majas, tentunya mereka dapat menemukan contoh lain yang terdapat dalam puisi Taufiq Ismail itu.

Untuk mengatasi hal ini, saya memutuskan untuk melakukan review atas pembelajaran yang telah saya lakukan tentang materi majas ini melalui model pembelajaran Take and Give. Waktu yang tersedia bagi saya masih cukup banyak, karena proses di awal tadi hanya memakan waktu sekitar 30 menit dari 2 (dua) jam pelajaran yang tersedia.

Langkah awal, saya meminta siswa-siswi yang berjumlah 40 orang untuk berhitung satu demi satu, mulai dari satu sampai sepuluh. Hitungan tersebut diulang kembali oleh siswa lain pada putaran berikutnya, hingga akhirnya semua siswa telah menyebut satu angka di antaranya. Setelah itu, semua siswa yang menyebutkan angka yang sama berkumpul menjadi satu kelompok. Dengan demikian terbentuklah sepuluh kelompok yang masing-masing terdiri dari empat orang siswa. Kemudian setiap kelompok menyiapkan kertas kerja sejumlah anggotanya.

Sepuluh kelompok yang telah terbentuk itu mendapat tugas untuk menentukan pengertian majas dan contohnya. Sebagai bahan diskusi kelompok, saya telah mempersiapkan sepuluh majas yang sering muncul dalam Ujian Akhir Nasional (UAN). Majas-majas tersebut adalah majas personifikasi, hiperbola, sinestesia, metonimia, simile, retoris, litotes, eufemisme, pleonasme, dan metafora. Masing-masing kelompok bertugas untuk membahas satu jenis majas, misalnya Kelompok 1 membahas majas personifikasi, Kelompok 2 membahas majas hiperbola dan seterusnya. Sedangkan contoh yang harus dibuat disesuaikan dengan jumlah anggota kelompok, dengan ketentuan satu orang siswa membuat satu contoh majas yang sedang dibahas oleh kelompoknya. Karena tiap kelompok terdiri dari empat orang, maka kelompok tersebut harus menemukan empat contoh.

Di bawah ini adalah contoh format kertas kerja yang harus diisi oleh siswa melalui kerja kelompok.

KELOMPOK 1 (Melisa, Pinky, Yuni An, Lidwina)

Majas Personifikasi

Majas personifikasi adalah .................................................

.................................................................................................

.................................................................................................

Contoh:

1...................................................................................(nama)

2. .................................................................................(nama)

3. .................................................................................(nama)

4. .................................................................................(nama)

Setelah masing-masing kelompok sepakat dengan hasil kerja mereka, maka mereka siap untuk saling menerima dan memberi (take and give) dengan kelompok yang lain. Tiap anggota kelompok diwajibkan untuk memberi tahu anggota kelompok lain yang ingin tahu tentang pengertian dan contoh majas yang bukan menjadi pembahasan di dalam kelompoknya. Sebagai bukti bahwa anggota kelompok lain yang bertanya telah memahami pengertian majas dan contoh-contohnya, maka si penanya tersebut harus memberikan satu contoh lain kepada anggota kelompok yang ditanyainya. Contoh tersebut kemudian dicatat di dalam kertas kerja anggota kelompok penjawab.

Sebagai contoh, Sumento kurang memahami majas personifikasi. Maka ia datang dan bertanya pada salah satu anggota kelompok satu, misalnya Melisa. Melisa wajib memberikan penjelasan dan menyampaikan empat contoh yang telah dihasilkan oleh kelompoknya. Setelah Sumento memahami penjelasan Melisa, maka sebagai tanda terima kasih, ia harus memberikan satu contoh majas personifikasi yang berbeda. Melisa harus mencatat contoh yang dikemukakan Sumento ke dalam kertas kerjanya. Demikian seterusnya ke kelompok lain, saling memberi dan menerima.

Hasil proses memberi dan menerima itu akhirnya dapat digunakan sebagai catatan khusus majas yang digunakan sewaktu-waktu. Contoh hasil pembelajaran dengan model Take and Give yang saya ambil dari salah satu kertas kerja anggota Kelompok 1 adalah sebagai berikut.

KELOMPOK 1 (Melisa, Pinky, Yuni An, Lidwina)

Majas Personifikasi

Majas personfikasi adalah gaya bahasa yang membandingkan benda seolah-olah benda-benda tersebut dapat melakukan kegiatan seperti manusia.

Contoh:

1. Angin meraung-raung membuatku semakin merinding. (Melisa)

2. Matahari baru saja kembali ke peraduannya. (Pinky)

3. Kulihat bulan di kotamu menangis di malam itu. (Yuni An)

4. Perahu itu menggergaji ombak. (Lidwina)

5. Mobilku batuk-batuk sejak 3 hari lalu. (Yuni P.)

6. Dengarlah nyanyian pucuk-pucuk cemara itu. (Putri)

7. Kami menyaksikan ombak yang berkejar-kejaran sore itu. (Pelagia)

8. Kursi tua itu menjerit saat kududuki. (Resti)

9. Kemarau mengusir kawanan keledai ke arah danau. (Helena)

10. Matahari membakar tubuh para perenang. (Vivi)

11. Tsunami tahun lalu memakan banyak korban. (Julita)

12. Sebelum meletus, Gunung Merapi sempat memuntahkan lava panasnya beberapa kali. (Yooce)

13. Sepanjang pantai Pasir Panjang, pohon nyiur melambai-lambai mengajakku untuk semakin dekat. (Emmy)

14. Pena menari-nari di atas kertas. (Padma)

Demikianlah, kesepuluh kelompok telah memiliki hasil kerja berupa catatan pengertian majas dan contoh-contoh yang lebih banyak dari semula. Seperti terlihat di atas, dari yang semula hanya empat contoh, bertambah menjadi empat belas contoh majas personifikasi, karena adanya “sumbangan” dari anggota kelompok lain. Seluruh hasil kerja tersebut saya kumpulkan dan bisa digandakan oleh para siswa yang berminat sebagai sebagai bahan belajar sesuai dengan kebutuhannya.

Proses pembelajaran yang berlangsung dalam dua jam pelajaran sebelumnya, belumlah berakhir. Pada kesempatan tatap muka berikutnya, yang hanya berlangsung selama satu jam pelajaran, saya memberikan 10 soal pilihan ganda tentang berbagai jenis majas itu. Soal-soal ini saya kutip dari beberapa contoh soal Ujian Akhir Nasional untuk Bahasa Indonesia, mulai dari tahun 2002-2006. Mereka saya minta untuk mengerjakan soal-soal ini dalam waktu 10 menit, sesudah itu hasilnya akan langsung dikoreksi bersama. Tujuannya bukan untuk mengambil nilai kognitif, tetapi hanya untuk menguji apakah kegiatan atau proses belajar yang dilakukan di pertemuan sebelumnya berguna bagi mereka ataukah tidak.

Hasil yang diperoleh siswa-siswi pada materi majas tersebut ternyata luar biasa. Saya senang karena rata-rata siswa mendapatkan nilai 90, dengan nilai terendah 70. Saya berkesimpulan pembelajaran Take and Give yang dilakukan pada tatap muka sebelumnya memberikan korelasi positif terhadap capaian siswa dan sangat berguna untuk mengerjakan kesepuluh soal ini.

Sebagai langkah akhir, saya harus kembali pada tuntutan pembelajaran, yaitu menentukan majas pada puisi. Kompetensi ini saya upayakan pencapaiannya dengan memberikan test tertulis berbentuk soal uraian. Sebuah puisi karya Indriyani Hastuti berjudul Bulan telah Mati di Jogja saya sajikan kepada siswa-siswi. Meskipun pertanyaannya saya perluas dengan menanyakan tema, amanat, serta makna kata, ternyata hasil test para siswa tidak mengecewakan. Model soal yang saya berikan dapat disimak di bagian berikut ini.

SOAL

Berdasarkan puisi berjudul Bulan Telah Mati di

Yogya di bawah ini, kerjakan soal-soal berikut

dengan cermat!

1. Tentukan majas dalam larik-larik puisi di bawah

ini. Jelaskan.

2. Sebutkan makna kata, frase, atau kalimat yang

bergaris bawah dalam puisi di bawah ini.

3. Tentukan tema dan pesan (amanat) yang

terkandung dalam puisi di bawah ini. Jelaskan.

BULAN TELAH MATI DI JOGJA

Kalau malam ini bulan ada

Bakal kuletakkan di keningmu

Agar gelap tak mengepung kita 1

Namun, malam ini bulan tak ada

Dan kelelawar berkabar dari loteng Stasiun Tua 2

Bahwa bulan telah mati di Jogja 3

Sejak spot light, neon, lampu reklame

Menampar wajah kita 4

Memang, bulan telah mati di Jogja

Dan gelap kukuh memeluk kita 5

Tapi tak usah berduka

Karena lenganku masih sanggup usap air mata

Karya : Indriyani Hastuti

Jogjakarta, 2002.

Jawaban yang diberikan oleh siswa dalam menanggapi pertanyaan di atas ternyata cukup beragam. Misalnya untuk soal nomor 1, Agusnadius (XII IIA) memberikan jawaban sebagai berikut :

(1) Agar gelap tak mengepung kita; (2) Kelelawar berkabar; (3) Bulan telah mati di Jogja; (4) Sejak spot light, neon, lampu reklame menampar wajah kita; dan (5) Dan gelap kukuh memeluk kita merupakan majas personifikasi.

Majas personifikasi adalah majas yang dapat menganggap benda hidup/mati dapat melakukan hal seperti manusia.

Sedangkan Elvitamuna (XII IIA) justru menemukan dua jenis majas pada puisi di atas, sehingga ia menulis jawaban seperti ini:

Kalimat “Agar gelap tak mengepung kita”, “Sejak spot light, neon, lampu reklame menampar wajah kita”, serta” Dan gelap kukuh memeluk kita”, mengandung majas personifikasi. Kata mengepung, menampar, memeluk merupakan suatu perbandingan antara sifat yang dimiliki oleh manusia dengan benda. Sedangkan kalimat “Kelelawar berkabar dari stasiun tua dan “Bahwa bulan telah mati di Jogja”, mengandung majas metafora. Kelelawar berkabar merupakan perbandingan dari dua benda yang tidak saling berkaitan, tetapi dianggap mempunyai arti atau makna yang sama.

Saya memberi nilai sempurna untuk jawaban yang pertama. Sementara untuk jawaban kedua perlu sedikit penambahan pada penjelasan majas metaforanya. Di situ kata-kata yang digarisbawahi tidak jelas disebutkan dimetaforkan dengan apa.

Di soal nomor dua, saya juga menemukan adanya perbedaan dalam menafsirkan makna. Sekali lagi saya mengutip dari jawaban Elvitamuna (XII IIA), yaitu:

1. Makna kata, frase, atau kalimat yang bergaris bawah adalah:

1) Agar kegelapan tak mengepung kita bermakna agar kesuraman dan kesedihan tidak terus menyelimuti hati kita di malam yang terasa sangat panjang.

2) Dan kelelawar berkabar dari loteng Stasiun Tua bermakna suara lonceng yang tertiup oleh angin pada malam hari di atas loteng stasiun seolah-olah memberikan kabar bahwa ada sesuatu yang telah terjadi.

3) Bulan telah mati di Yogya bermakna kegembiraan dari masyarakat sudah sirna atau hilang karena suatu bencana yang sedang terjadi dan dalam keadaan yang sedang bersedih.

4) Sejak spot light, neon, lampu reklame menampar wajah kita bermakna sejak suatu bencana yang hebat melanda kota tersebut, seolah-olah mendapatkan suatu pukulan yang tiba-tiba.

5) Gelap kukuh memeluk kita bermakna kesedihan dan rasa berduka yang masih menyelimuti hati masyarakat atau keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.

Ini berbeda dengan jawaban Agusnadius (XII IIA) berikut ini:

Agar gelap tak mengepung kita bermakna agar kesunyian tidak terjadi pada diri kita maka kita memerlukan seorang sahabat. Kelelawar berkabar bermakna sesuatu yang tak akan terjadi meskipun hal itu pernah ditunggu-tunggu. Bulan telah mati di Yogya dan sejak spot light, neon, lampu reklame menampar wajah kita bermakna hal yang kita tunggu tak kunjung datang, tetapi yang tidak kita impikan malah menghampiri kita. Gelap kukuh memeluk kita bermakna ingin rasanya kita mencari hal itu, tetapi kita merasa terkekang oleh sesuatu hal.

Lagi-lagi saya mendapatkan jawaban berbeda untuk pertanyaan nomor 3. Elvitamuna memberikan jawaban bahwa tema puisi pada soal di atas adalah tema sosial, karena mengandung nilai-nilai sosial. Berkaitan dengan pesan/amanat yang terkandung dalam puisi, ia mengungkapkan kita harus tetap tabah dan sabar dalam menghadapi situasi kehidupan, sekalipun terasa sangat berat. Sedangkan Agusnadius menyatakan tema puisi itu adalah harapan kita yang tak menjadi kenyataan. Karena harapan yang kita tunggu tidak pernah tiba dan hal lain yang tidak kita tunggu malah muncul. Amanat atau pesannya, janganlah larut dalam kesedihan apabila harapan kita tidak menjadi kenyataan.

Untuk jawaban-jawaban yang diberikan oleh para siswa atas pertanyaan nomor dua dan tiga, seluruhnya saya beri nilai sempurna. Bagi saya, perbedaan dalam menafsirkan makna puisi bukan merupakan masalah yang mendasar. Yang terpenting mereka mampu memberikan penjelasan, dan penjelasan itu masuk akal.

Membaca Puisi dan Menganalisis Pembacaan Puisi Melalui Model Pembelajaran Time Token Arends

Pembelajaran dengan model Time Token Arends saya terapkan di kelas X, untuk Standar Kompetensi “mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, perasaan dalam berbagai bentuk wacana lisan sastra, melalui membahas atau mendiskusikan isi cerpen dan puisi.” Kompetensi Dasarnya adalah “membaca puisi”, khusus untuk penilaian psikomotorik.

Setiap siswa akan mendapatkan dua lembar kupon yang harus dipergunakan sepanjang proses pembelajaran. Kupon itu menjadi “pintu” untuk mendapatkan kesempatan bicara. Dengan demikian, setiap siswa mempunyai dua kali kesempatan bicara. Sebelum pertemuan dengan model pembelajaran Time Token Arends ini, siswa telah diminta menyiapkan masing-masing satu puisi untuk dibacakan di depan kelas. Lalu mereka juga diminta membawa dua lembar kertas kecil sebagai kupon. Puisi yang akan dibacakan nanti tidak harus hasil karya sendiri, tetapi boleh diambil dari berbagai sumber bacaan.

Pertemuan dalam 2 jam pelajaran ini diawali dengan mengecek kembali kesiapan siswa berkaitan dengan puisi yang akan dibacakan. Setelah itu, saya mengajak siswa untuk menyebutkan kembali hal-hal yang penting untuk diperhatikan pada saat membaca puisi, seperti cara pengucapan/intonasi, ekspresi, jeda, dan dinamika (keras lembutnya suara). Jawaban siswa itu saya tulis di atas papan tulis. Saya menjelaskan dengan singkat “aturan main” dalam proses analisis pembacaan puisi nanti. Bahwa setiap siswa hanya mempunyai kesempatan maksimal dua kali untuk berbicara/memberikan tanggapan. Sebelum berbicara harus menyerahkan kuponnya kepada saya, istilahnya “membayar kepada saya”. Kedua kupon yang ada di tangan masing-masing siswa harus habis digunakan. Dengan demikian siswa yang pasif pun diharuskan untuk menukarkan kuponnya dengan kesempatan bicara.

Setelah satu orang siswa selesai membacakan puisinya, saya memberikan kesempatan kepada teman yang lain untuk menanggapi. Kadang-kadang saya harus memancing mereka dengan pertanyaan, supaya komentar/penilaian mereka tidak lari dari konteksnya. Respon dari siswa itu saya kembalikan lagi kepada si pembaca untuk mendapatkan tanggapan atau klarifikasi. Makna sebuah puisi pun biasanya ditangkap berbeda oleh masing-masing siswa, sehingga menarik untuk dijadikan sebagai bahan diskusi.

Pembelajaran dengan model Time Token Arends ini memakan waktu 4 jam pelajaran atau dua kali tatap muka. Di akhir pelajaran saya mengajak siswa untuk mengambil manfaat dari proses belajar yang telah mereka lalui. Saya bertanya kepada mereka “apakah kegiatan ini berguna bagi mereka?” Mereka mengatakan “iya.” Lalu, “apa saja gunanya?” Ada yang menjawab untuk melatih ekspresi ketika berbicara, menambah rasa percaya diri, menambah pengalaman baru dan lain-lain. Dalam melakukan penilaian psikomotor untuk setiap siswa, masukan dari siswa menjadi pertimbangan utama saya. Selain itu, penilaian afektif sekaligus bisa dilakukan dengan melihat inisiatif dan keaktifan siswa, baik si pembaca maupun si pendengar.

Hambatan-Hambatan yang Ditemukan

Beberapa hambatan yang dapat diidentifikasikan selama berlangsungnya pembelajaran bahasa di sekolah dimana saya mengajar antara lain adalah:

1. Perbedaan motivasi belajar siswa.

Dengan sistem pembagian kelas yang didasarkan pada prestasi akademik, terdapat siswa-siswi di kelas tertentu yang motivasi belajarnya tidak setinggi kelas-kelas unggulan. Di kelas-kelas seperti ini, meskipun proses belajarnya relatif bisa berlangsung dengan baik, sering kali mereka belum mampu menemukan tujuan dari proses belajar yang mereka lakukan. Mereka seolah-olah masih berpandangan bahwa kegiatan belajar hanya ditujukan untuk guru dan untuk memperoleh nilai. Pandangan seperti ini yang seharusnya perlahan-lahan mulai diperbaiki.

2. Belum ada sinergi antara tuntutan KTSP dengan tuntutan UAN.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengharuskan bagi guru untuk mengubah cara berpikir, bertindak dan melayani siswa. Siswa bukan hanya diminta untuk sekedar tahu dan hafal tentang sesuatu, sehingga pada akhirnya mereka harus mampu menemukan sesuatu yang berarti bagi dirinya. Namun, saya masih menemukan bahwa tuntutan ujian akhir kadangkala belum sinergis dengan tuntutan KTSP itu sendiri. Karena soal-soal yang disajikan dalam ujian akhir berbentuk pilihan ganda, yang membatasi ruang bagi siswa untuk memiliki penafsiran berbeda.

Pemenuhan kompetensi-kompetensi dasar dalam KTSP memerlukan proses belajar yang panjang. Kadang-kadang waktu pertemuan/tatap muka yang tersedia menjadi terasa begitu sempit. Alokasi waktu yang tercantum dalam rancangan pembelajaran akhirnya meleset atau tidak dapat dipenuhi. Bisa dikatakan kompetensi yang dituntut dalam KTSP sebenarnya lebih berat dari ujian akhir.

3. Masih besarnya jumlah murid dalam satu rombongan belajar (kelas).

Jumlah siswa yang cukup besar di setiap kelas, yaitu rata-rata sekitar 40 orang, sedikit banyak menimbulkan permasalahan dalam melakukan kontrol terhadap partisipasi dan capaian siswa. Terlalu banyaknya siswa di satu kelas juga memberikan kesulitan tersendiri dalam memberikan pelayanan yang adil dan tepat bagi siswa, sesuai dengan yang dibutuhkan.

Manfaat yang Dapat Dipetik dari Model Pembelajaran Take and Give dan Time Token Arends

Model-model pembelajaran tadi merupakan contoh kecil dari penerapan pembelajaran yang demokratis di sekolah. Menurut saya, proses pembelajaran yang demokratis adalah proses belajar yang menempatkan siswa sebagai subyek. Mereka harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham, dan dari tidak tahu menjadi tahu. Di sepanjang proses belajar itu, aktivitas siswa menjadi titik perhatian utama. Dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.

Proses yang demokratis itu yang ingin saya bangun melalui kedua model belajar yang telah saya gambarkan di atas. Di sana ada keterlibatan siswa di dalam proses belajar. Mereka diajak untuk mengalami bersama. Seperti dalam model Take and Give, para siswa diberi keleluasaan untuk saling bertukar informasi dengan teman-teman mereka. Pengalaman menarik yang saya temukan adalah ketika ada seorang siswa datang kepada saya dan mengatakan bahwa ia tidak bisa menjelaskan pengetahuan yang sebenarnya telah dipahaminya kepada orang lain, meskipun sesungguhnya ia sangat ingin berbagi. Setelah mendapatkan input dari saya, ia kembali ke kelompoknya. Ia lalu belajar dari kawan sekelompoknya yang lebih mampu menjelaskan dan mencoba mempraktikkan kemampuan barunya itu, dengan cara menjelaskan ke teman lain dengan menggunakan bahasa yang sangat sederhana. Sebuah perubahan yang menggembirakan untuk saya.

Saya juga menemukan sikap-sikap positif yang mampu ditunjukkan oleh siswa pada saat mereka terlibat dalam kerja kelompok. Ada salah seorang anggota kelompok yang memiliki kemampuan jauh di bawah teman-teman sekelompoknya, tapi justru yang paling banyak bicara. Awalnya anggota kelompok yang lain menganggap kehadiran siswa ini di dalam kelompok mereka sebagai sebuah permasalahan. Namun saya menyarankan kepada mereka untuk mendengarkan apa pendapat temannya ini. Pada akhirnya, mereka bersedia mengakomodir pendapat temannya. Contoh yang dikemukakan oleh teman yang tadinya dianggap akan menimbulkan masalah ini pun ditulis di kertas kerja kelompok.

Sebaliknya, ada juga seorang siswa yang selalu ingin mengambil peran yang paling dominan atau tampak menonjol di antara teman-teman yang lain. Saya lalu memanggil siswa ini dan mengajaknya berbicara. Tujuannya adalah untuk mengurangi dominasi siswa ini di dalam kelompok, sehingga ia mau berbagi peran dengan teman-temannya yang lain. Saya memberikan saran agar ia mau memimpin proses diskusi di kelompoknya, sehingga rumusan hasil diskusi kelompok dikerjakan secara bersama-sama. Perubahan terlihat dalam proses diskusi selanjutnya. Saya melihat siswa tersebut mulai mau mendengar dan bertukar pengetahuan dengan teman-teman di kelompoknya.

Dua model pembelajaran yang saya terapkan, baik model Take and Give maupun Times Token Arends, menurut saya mampu mendorong siswa peserta belajar untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya. Siswa yang pasif sekalipun diharuskan mengambil peran secara aktif, baik untuk menggali pengetahuan/belajar dari teman lain maupun dalam memberikan penilaian terhadap apa yang telah ditampilkan oleh temannya.

Kebiasaan untuk saling mendengarkan, berbagi, memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik inilah yang sebaiknya harus terus ditumbuhkan dalam kegiatan belajar mengajar.


2 komentar on "MENJADIKAN SISWA SEBAGAI SUBYEK DALAM KEGIATAN BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TAKE AND GIVE DAN TIME TOKEN ARENDS"

efie on 17 Mei 2010 23.47 mengatakan...

tolong dong kasih referensi buku tentang time token arends ke email saya gouplack@gmail.com

dhoelh de hardie on 31 Januari 2012 04.11 mengatakan...

mas referensinya dapat di mana?? Q bingung nyari referesinya.

Poskan Komentar

 

kampung anak Copyright 2008 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipiet | All Image Presented by Tadpole's Notez